Kejadian kedua adalah pada sore hari, kali ini terjadi di bagian akademik salah satu fakultas di universitas yang cukup terkenal di Indonesia bagian Timur.
KASUS 2
Dalam rangka meminta surat ijin ke bagian akademik untuk wawancara PR, saya ditemani salah satu anggota kelompok saya ke ruang Wadek di fakultas tersebut. Disana saya diberitahu seorang lelaki bahwa wadek yang mengurusi masalah perijinan semacam ini sedang sakit, jadi gak masuk. Lelaki tersebut dengan baik menawarkan kepada kami untuk membuat surat ijin lagi saja namun dengan menggunakan nama Pak J sebagai pihak pengijin. Akhirnya diantar lelaki tadi, kami pergi ke ruang Akademik. Disana, lelaki tadi bilang
Lelaki: “Bu ini bisa gk dibuatkan lagi, tapi nanti pake nama Pak J saja soalnya mereka ini butuh cepat.”
Bu: “Ha?”
Saya: “Iya bu, ini juga salah. Anaknya ada 6, tapi disini kok cuma ditulis 4.”
Bu: “Halah, iki wes bolak-balik mrene! Gak isok!!!!”
Lelaki: “Gak bisa ya bu?” dengan intonasi yang tenang
Bu: “Gak isok, iki wis bolak-balik nggonta-ngganti!!! Iki wis ping telu diganti iki!!!”
Saya: “Loh Bu!!!!!! Ini saya baru dua kali.” dengan nada amarah yang tertahan karena saya sangat tidak suka orang yang melebih-lebihkan padahal saya ini baru dua kali.
Bu: “Wis, gak bisa!!!!”
Akhirnya saya benar-benar sangat sangat KESAL SEKALI karena padahal pada saat itu layar komputer yang di hadapan petugas tersebut sedang menayangkan game yang dimainkannya. Lah terus buat apa dia kerja disini, kalau disuruh begini saja tidak mau, yang mana padahal ini adalah memang tugasnya. Saya sangat sangat KECEWA dengan kinerja pihak Akademik di fakultas ini, SANGAT KECEWA SEKALI. Kalau sudah tua dan tidak mau bekerja, biarkan yang muda saja yang memiliki visi melayani yang menggantikannya. Bukannya pemalas seperti ini yang masih dpertahankan. Yang paling saya kecewa adalah, orang ini menggunakan salah satu identitas agama, SUNGGUH SANGAT MENGECEWAKAN.
Sebelum mengalami hal ini, dua hari yang lalu saya juga mendapat cerita yang dialami langsung oleh teman saya yang mana juga berhubungan dengan bagian Akademik fakultas ini. Dia dulu hendak memindah mata kelas untuk suatu mata kuliah. Memang pada saat itu tidak hanya satu mahasiswa saja yang hendak ganti mata kuliah karena jam bentrok. Tahukah kamu apa yang dikatakan oleh pihak Akademik?
“Wis mbak gak isok! Wis telat!”
Padahal itu masih dalam minggu kedua kegiatan belajar mengajar (kbm) berlangsung di kampus. Sungguh sangat disayangkan padahal sebenarnya paling terlambat adalah ketika sudah memasuki minggu ketiga kbm. Apalagi, seperti yang saya alami, salah seorang di bagian Akademik tersebut juga menambahkan
Orang di Aka: “Ya mungkin kamu belum ngisi KRS aja mbak!”
Teman saya: “Sudah, bu! Saya sudah ngambil mata kuliah ini.”
Orang di Aka: “Wah, gak mungkin. Komputer gak bisa bohong”
Dari percakapan tersebut dapat diartikan bahwa salah seorang di Akademik tersebut benar-benar ngeyelan. Akhirnya, melihat para mahasiswa kesulitan, seorang dosen (Bu D) turun tangan untuk membantu merayu pihak Akademik. Namun sayang sekali, yang ada malah
“Wis gak bisa, Bu!” itulah ucapan yang dilontarkan dengan intonasi yang cukup naik KEPADA DOSEN BAHKAN!!!!!!
Saya termenung saja setelah secara empiris merasakan konflik dengan salah seorang di bagian Akademik. Bagaimana sih dulu mereka bisa diangkat untuk bekerja disana? Sedikit-sedikit selalu berkata tidak bisa padahal itu sudah menjadi tanggung jawab mereka mengingat memang itulah pekerjaan mereka. Saya sekarang hanya ingin bertemu dengan bagian Humas dari fakultas ini membincangkan tentang kasus ini. Setidaknya mengapa salah seorang di Akademik itu lebih memilih main game daripada mengiyakan permohonan mahasiswa untuk membuat surat ijin.

Recent Comments
18th Apr 12
18th Apr 12
25th Mar 12
24th Mar 12
22nd Mar 12