Tag-Archive for » Public relations «

May
13

2Setelah wawancara dengan Mbak Saras,pada hari Sabtu 8 Mei kita wawancara dengan PRO Hotel Bisanta Bidakara. Jam 10 pagi, itulah jam yang dijanjikan untuk wawancara. Setelah semua anggota kelompok saya berkumpul, kita langsung ke Hotel BB yang berlokasi di daerah belakangnya TP. Tempatnya agak terselubung sih, soalnya ada lapangan di depannya, jadi gak bakal nyangka kalo ada hotel bagus disana.

Sampai disana, kita parkir sepeda motor kita. Pada saat memarkir sepeda, tidak ada orang yang menjaga tempat parkir sepeda itu namun ketika kita sudah selesai, ada orang laki-laki pake’ baju seragam warna biru menghampiri kami dan menuliskan nomor sepeda motor kami di karcis. Perlu diketahui, di hotel ini penjaga parkirnya ada sendiri, bukan jukir umum yang kayak di pinggiran jalan. Dan satu lagi, parkir sepeda motor di hotel-hotel yang pernah saya kunjungi always free although we don’t reserve any room or in other words, we aren’t staying night there. Anyway, pada saat mas tadi ngasih karcis parkir, ada satu hal yang bikin teman saya, si Ngocis, ngguyu. Mas’e tadi pas ngasih karcisnya, bertanya

Mas: “Di kamar nomer berapa?”
Saya: (terkejut sebentar, tapi langsung menanggapi) continue reading…..

May
13

1Due to many business I should do, so I have time to write the post now. However, akhirnya hari untuk wawancara dengan PRO (Public Relations Officer) Hotel Sahid tiba juga, tepatnya hari Jum’at tanggal 7 Mei. Di sisi lain, surat pengantar untuk mewawancarai PRO masih belum selesai juga karena orang yang seharusnya menandatangani surat pengantar itu masih sakit. Akhirnya saya dan kelompok saya menelepon Mbak Saras, PRO Hotel Sahid Surabaya, tentang perihal surat pengantar yang tidak bisa kami berikan dan tidak lupa kami memberi alasan mengapa bisa sampai begitu. ALHAMDULILLAH, mbak nya mau memahami dan membolehkan kami melakukan wawancara meski tanpa surat pengantar, namun dengan syarat harus menunjukkan KTM.

Langsung saja kami tancap gas ke Hotel Sahid. Sampai disana kami kami parkir, trus masuk, dan di resepsionis kami memberitahukan alasan kami datang ke Hotel Sahid. Lalu kami disuruh menunggu dulu delama beberapa menit. Cukup lama sih, lalu Mbak Saras datang dan kami diajak ke ruang makan Hotel Sahid. Setelah duduk, mbaknya minta ditunjukkan KTM……kebetulan dia cuma minta ke salah satu anak saja yaitu si Ngocis. Setelah beberapa detik membaca KTM si Ngocis, lalu mbak Saras bilang;

Mbak Saras: “Mmm…kemarin itu juga ada anak UNAIR yang kesini minta wawancara sama saya”
Semua anggota kelompok: (wajah terkejut)
Saya: “Anak Sastra Inggris juga ta, Mbak?”
continue reading…..

May
06

Kejadian kedua adalah pada sore hari, kali ini terjadi di bagian akademik salah satu fakultas di universitas yang cukup terkenal di Indonesia bagian Timur.

KASUS 2

Dalam rangka meminta surat ijin ke bagian akademik untuk wawancara PR, saya ditemani salah satu anggota kelompok saya ke ruang Wadek di fakultas tersebut. Disana saya diberitahu seorang lelaki bahwa wadek yang mengurusi masalah perijinan semacam ini sedang sakit, jadi gak masuk. Lelaki tersebut dengan baik menawarkan kepada kami untuk membuat surat ijin lagi saja namun dengan menggunakan nama Pak J sebagai pihak pengijin. Akhirnya diantar lelaki tadi, kami pergi ke ruang Akademik. Disana, lelaki tadi bilang

Lelaki: “Bu ini bisa gk dibuatkan lagi, tapi nanti pake nama Pak J saja soalnya mereka ini butuh cepat.”

Bu: “Ha?”

Saya: “Iya bu, ini juga salah. Anaknya ada 6, tapi disini kok cuma ditulis 4.”

Bu: “Halah, iki wes bolak-balik mrene! Gak isok!!!!”

Lelaki: “Gak bisa ya bu?” dengan intonasi yang tenang

Bu: “Gak isok, iki wis bolak-balik nggonta-ngganti!!! Iki wis ping telu diganti iki!!!”

Saya: “Loh Bu!!!!!! Ini saya baru dua kali.” dengan nada amarah yang tertahan karena saya sangat tidak suka orang yang melebih-lebihkan padahal saya ini baru dua kali.

Bu: “Wis, gak bisa!!!!”

continue reading…..

May
06

Hari ini benar-benar menjengkelkan setelah kemarin secara birokrasi dipersulit pada saat hendak melakukan wawancara dengan pihak PMK Pasar Turi, eh kok ya hari ini malah jadi worse.

KASUS 1

Tadi saya mengantar teman saya yang mau melakukan wawancara dengan bagian Public Relations di salah satu hotel yang cukup terkenal di wilayah Surabaya Barat. Bangunannya berwarna kuning agak krem. Kelompok teman saya memilih hotel ini karena ada salah satu anggota dari kelompok ini memilki saudara yang bekerja di hotel berwarna krem ini. Dalam kontak sebelum hari ini, teman saya sudah mengetahui bahwa di hotel krem ini memang tidak ada yang namanya Public Relations, namun yang ada adalah Marketing Communication, namun memiliki pekerjaan yang bisa dibilang sama dengan Public Relations.

Karena kelompok lain yang juga mendapat tugas yang sama (mewawancarai PR) sudah wawancara dengan salah satu perusahaan operator seluler, dengan catatan bahwa bagian PR di perusahaan tersebut juga tidak bernama Public Relations, melainkan Corporate Communication, maka teman saya yang hendak wawancara dengan PR dari hotel krem ini pun menyepakati bahwa akan mengadakan wawancara dengan bagian Marketing Communication.

Setelah melakukan kesepakatan, pihak Markting Communication (MC) hotel menyuruh teman saya agar mengadakan janji dulu dengan melapor ke bagian HRD hotel tersebut. Pihak MC sudah menyanggupi kapanpun, tapi dengan syarat membuat janji dulu di bagian HRD. continue reading…..